Tampak jelas ‘daun pakis’ di tangan para remaja putri ketika sedang berlatih di lapangan Benteng Kayumangiwang, Topoyo, Rabu sore, 2 Mei 2018. (Foto: Sarman SHD)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Fhatur Anjasmara tak mau disebut sekadar tampil beda. Model rancangan kegiatan—terutama di saat pembukaan—MTQ ke-7 Sulawesi Barat, yang hajatan keagamaan kali ini ditempatkan di Topoyo, Mamuju Tengah, akan menampilkan nilai dan gerak seni kekhasan Lalla’ Tassisara’.

Di ujung waktu petang pada Rabu, 2 Mei lalu, Fhatur Anjasmara sesekali melayani pertanyaan kru laman ini walau sementara sibuk mengontrol 130 orang perempuan muda pemeran penampil opening ceremony di malam pembukaan MTQ, yang akan berlangsung malam nanti, Sabtu, 5 Mei.

Bang Fhatur—sapaan akrab Jurnalis senior—tak sekadar datang di lapangan Benteng Kayumangiwang di Rabu sore itu. dalam MTQ Topoyo kali ini, ia adalah Stage Manager khusus untuk acara pentas pembukaan.

“Yang kawan-kawan lihat itu adalah daun pakis. Daun yang dipegang oleh para kawula putri,” katanya membuka jawaban kepada transtipo.com.

Fhatur lalu bercerita serius. “Jadi untuk pembukaan nanti, atau khusus di ajang MTQ ini, kita memang bekerja maksimal. Kami, dengan sejumlah kawan di Mamuju Tengah ini turun ke lapangan. Kami meneliti filosofi apa yang menarik ditampilkan saat pembukaan,” ia bercerita.

Jadi jelasnya, cerita Fhatur lagi, ada tiga hal sebagai simbol apa yang akan jadi kasat mata bagi khalayak nanti.

“Yang pertama simbol daun pakis, dari tanaman paku. Tahu kan. Mengapa dipilih daun pakis? Begini, dahulu kala, ada sebuah komuitas Adat yang disebut dalam sejarah Orang Ongko. Yang sederhana kemudian disebut Orang Pakis. Mereka bermukim pada sebuah tempat di Mamuju Tengah ini, dulu ya. Komunitas ini kemudian dikenal Ngapa Boa,” kisah Fhatur.

Disebut Ngapa Boa, urai singkatnya, lantaran di sebuah kampung tempo dulu itu dibakar sendiri oleh penghuninya.

Fhatur Ajasmara (depan, berkopiah) duduk sumrigah bersama para calo pementas acara opening ceremony MTQ Topoyo 2018, Rabu sore, 2 Mei 2018. (Foto: Sarman SHD)

Mengapa dibakar? “Sebab, mereka memilih meninggalkan kampung ketika segerombolon orang jahat masuk menyerang kampung mereka. Nah, oleh kaum perempuan dari mereka ini memilih membakar seisi kampung lalu mereka pergi tinggalkan kampungnya.” begitulah, kisah pendeknya.

Kandungan falsafah yang kedua, tambah Fhatur lagi, sejarah perjuangan rakyat Mamuju Tengah yang tersimbolisasi eksistensinya Benteng Kayumangiwang. “Bro, pasti sudah punya referensi banyak tentang sejarah benteng ini, kan.”

Masuknya Islam di Mamuju Tengah yang dibawa oleh Guru Besar Agama Islam Imam Lapeo atau KH Muhammad Thahir, adalah simbol yang ketiga yang akan termanifestasikan dalam rangkaian gerak seni di malam pembukaan MTQ.

“Bukti masuknya Islam di sini, tempo dulu itu, dibuktikan dengan tiga bangunan Masjid dibangun di masa sekitar 140 tahun silam itu. Masjid di Babana, Budong-Budong. Masjid di Tumbu, Topoyo. Dan, terakhir Masjid di Anggaleha, Karossa,” kisah kajian lelaki 38 tahun ini.

Saat tulisan ini dibuat, tanah kota Topoyo begitu sesak dipijak para tetamu dari lima kabupaten lain di Sulawesi Barat.

Mobil-mobil mengilap berlalu lalang hendak mencari tempat beristirahatnya sang tuan di dalam, yang sudah pasti begitu penat lantaran baru datang dari perjalanan darat yang jauh.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR